Senin, 07 Maret 2016

17 PERKARA SEPUTAR SHALAT GERHANA



بسم الله الرحمن الرحيم

17 PERKARA SEPUTAR SHALAT  GERHANA

1.   Shalat Khusuf dan Kusuf adalah istilah menyebut shalat gerhana matahari atau gerhana bulan.
2.   Hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkadah alias sangat dianjurkan ( Imam Nawawi Syarah Shahih Muslim 6/451)
3.   Dianjurkan pelaksanaan Shalat Khusuf berjamaah di masjid sebagaimana Nabi salallahualaihi wasallam melaksanakannya, tapi siapa yang melaksanakannya sendirian shalatnya sah. Aisyah radiallahu anha berkata : ketika terjadi gerhana di zaman Rasulullah salallahualaihi wasallam, beliau keluar menuju masjid, orang orang pun bersaf di belakang beliau ( untuk shalat ). ( H. R Bukhari )
4.   Waktu shalat shalat gerhana dimulai sejak awal terjadinya gerhana dan berakhir ( tidak boleh shalat ) jika gerhana usai.
5.   Tidak boleh memulai shalat kecuali kejadian gerhana sudah terlihat oleh orang orang. Sabda Nabi salallahu alaihi wasallam : “Jika telah terlihat oleh kalian sesuatu ( gerhana ) Shalatlah hingga terang benderang. ( H. R Bukhari 1063 )
6.   Jika gerhana masih tersisa separuh atau sisa terakhir  berarti masih ada kesempatan bagi seorang yang  belum melaksanakannya untuk shalat khusuf.
7.   Tidak boleh qadha / mengganti shalat bagi seorang yang telah luput dari gerhana ( tertidur atau telat mengetahui adanya gerhana). ( Kitab Almugni 3/332)
8.   Cara Memanggil  Shalat ; tidak ada azan dan iqamat dalam shalat gerhana, hanya ucapan الصلاة جامعة  Assolaatu Jaamiah, di seru berulang hingga manusia mendengar bahwa shalat gerhana akan dimulai.
عن عبد الله بن عمرو ، قال : لما كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نودي بالصلاة جامعة. متفق عليه .
Abdullah bin Amr berkata : Ketika terjadi gerhana di zaman Rasulullah salallahu alaihi wasallam diseur ( manusia) dengan Assolaatu Jaamiah ( shalat berjamaah ) ( H. R Bukhari Muslim )
9.   TATA CARA SHALAT GERHANA
Dikerjakan sebanyak dua rakaat, setiap rakaatnya terdapat dua kali bacaan Alfatihah dan dua kali bacaan surat, dua kali ruku dan dua kali sujud seperti berikut ini :
a.   Niat di dalam hati bermaksud shalat gerhana ( tidak dianjurkan  lafadz ushalli )
b.   Membaca Doa Iftitah
c.    Membaca Ta’awudz  dan basmalah selanjutnya Alfatihah dengan Jahar  ( nyaring ) seperti dalam dua rakaat pertama shalat magrib dan isya.
d.   Membaca Surat Alquran, disunnahkan  yang panjang seperti Albaqarah.
e.   Ruku’  ( membaca tasbihnya diperbanyak )
f.      I’tidal berdiri membaca samiallahu liman hamidah, tidak langsung bersujud tetapi
g.    kembali membaca Alfatihah
h.   Membaca Surat Alquran  yang lebih pendek dari bacaan pertama
i.      Ruku’  ( baca tasbihnya diperbanyak )
j.       I’tidal berdiri membaca samiallahu liman hamidah
k.    Sujud ( membaca tasbihnya diperbanyak )
l.      Duduk diatara dua sujud
m.            Sujud kedua
n.   Berdiri kembali  untuk rakaat kedua dengan ucapan dan gerakan seperti rakaat pertama dan disudahi dengan salam Bilamana shalatnya dikerjakan berjamaah di masjid maka disunnahkan mendengarkan khutbah gerhana, adapun shalat sendirian maka tak ada khutbahnya. Dalil shalat gerhana ini adalah hadits di Shahih Bukhari yang diriwayatkan Aisyah radiallahuanha :
عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت: خسفت الشمس في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى المسجد فقام وكبر وصف الناس وراءه فاقترأ رسول الله صلى الله عليه وسلم قراءة طويلة ثم كبر فركع ركوعا طويلا ثم رفع رأسه فقال سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد ثم قام فاقترأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى ثم كبر فركع ركوعا طويلا هو أدنى من الركوع الأول ثم قال سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد ثم سجد ثم فعل في الركعة الأخرى مثل ذلك حتى استكمل أربع ركعات وأربع سجدات وانجلت الشمس قبل أن ينصرف ثم قام فخطب الناس فأثنى على الله بما هو أهله ثم قال إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموها فافزعوا للصلاة } رواه مسلم
Dari ‘Aisyah r.a. berkata: “Di zaman Rasulullah S.A.W. telah terjadi gerhana Matahari, kemudian Rasulullah shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri dan memanjangkan (lama) berdirinya, lalu beliau ruku’ dan memanjangkan ruku’nya, setelah itu Beliau berdiri (lagi) dan memanjangkan berdirinya hanya tidak sepanjang berdiri yang pertama, kemudian Beliau ruku’ kurang (tidak selama) ruku’ yang pertama, kemudian Beliau sujud dan memanjangkan sujudnya. Kemudian Beliau melakukannya pada raka’at yang kedua sebagaimana melakukan pada raka’at yang pertama. Setelah itu Beliau berpaling sedangkan Matahari sudah terang, lalu beliau menasihati (khuthbah) orang-orang, Beliau membaca tasbih kepada Allah dan memuji-Nya lantas bersabda: ‘Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua ayat (tanda) di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat yang serupa itu (gerhana) berdo’alah kamu kepada Allah dan bertakbirlah dan bershadaqahlah kamu.” (H.R. Bukhariy 1:181, 2:24 )
10       Shalat khusuf dijaharkan adalah sesuai dengan hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah radiallahuanha
)جهر النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الخسوف بقراءته(
Nabi salallahualaihi wasallam menjaharkan bacaannya dalam shalat khusuf
قال ابن عباس رضي الله عنهما: نحوًا من سورة البقرة.
Berkata Ibnu Abbas panjang bacaannya hamper menyamai Albaqarah(  H.R Bukhari 1052 Muslim 907)

11       Sebagian Ulama memandang boleh jika ada yang shalat gerhana tapi tidak mengeraskan bacaannya.
12       Berapa panjang bacaannya Nabi salallahualaihi wasallam dalam shalat khusuf ? Menurut sahabat Ibnu Abbas
قال ابن عباس رضي الله عنهما: نحوًا من سورة البقرة.
Berkata Ibnu Abbas panjang bacaannya hamper menyamai Albaqarah(  H.R Bukhari 1052 Muslim 907)
13            Masbuk / terlambat /ketinggalan  shalat khusuf sesudah ruku’ pertama terhitung sebagai orang yang ketinggalan satu rakaat, konsekwensinya ia wajib mengganti satu rakaat khusuf lagi sesudah salam. Sebab menurut Ulama yang termasuk rukun shalat adalah ruku’ pertama. ( Fatwa Lajna Daaimah KSA 8/324 Almugni Ibnu Qudamah 3 / 332 )
14            Bilamana bertemu dua shalat yakni shalat khusuf dengan, shalat jenazah  atau shalat jumat, maka dahulukan  shalat yang waktunya  sempit  dan akan berakhir, shalat yang waktunya luas silahkan ditunda. ( Almugni 3/ 331 )
15            Shalat khusuf tetap dianjurkan walaupun sedang dalam bepergian / musafir. Atau gerhananya terjadi pada waktu yang dilarang shalat sunnah di dalamnya seperti bada Shubuh dan bada Ashar sebab shalat khusuf adalah shalat yang memiliki sebab khusus. ( lihat Fatwa Bin Baz 41/13 )
16            Shalat khusuf adalah shalat  yang dianjurkan untuk Laki perempuan dalil shalatnya wanita dalam shalat gerhana ini adalah perbuatan A’isyah dan Asma keduanya putri Abu Bakar radiallahu anhum yang shalat di belakang Nabi salallahu alaihi wasallam ( Fathul Bari 1/183)
17            HIKMAH GERHANA menurut Ibnu Mulaqqin rahimahullah adalah:
a)   Menunjukkan besarnya Kekuasaan Allah azza wajallah yang mencipta manfaat bulan matahari bagi manusia
b)   Kehinaan bagi orang yang penyembah bulan matahari. – penulis : bertawassul dan bertabarruk padanya,
c)     membangunkan hati orang orang yang selama ini lalai kepada perintah Allah
d)   supaya kita bisa merenungi beginilah contoh kecil  gerhana kiamat seperti dalam Alquran Surat Al Qiyamah ayat 8-9
e)   peringatan azab dan bencana bagi orang berdosa. ( Umdatul Qori Al Uyaini  6/5

H. Yusuf Lauma, Lc Narasumber Lentera Qalbu RadarTv setiap Jumat 13.00/19.30wita , Siraman Rohani PATRA 99,1 Fm setiap hari 17.30wita Cahaya Hati antv Sulteng, Sirah Nabawiyah Malam Jumat bada Magrib di Masjid Alamanah Jl Kihajar.

»»  READMORE...